Netepi Laku: Mlaku-Mlaku dan Sinau

ESAI

Oleh: Maseko BS

2/18/2026

ADA pepatah Jawa “othak-athik gathuk” yang memiliki arti menyocokkan segala hal atau bahasa gaulnya ‘cocoklogi’. Ini berkaitan dengan niatan datang di acara Parade Terbaik Teater Jawa Tengah yang dihelat hari Rabu-Kamis tanggal 11-12 Februari 2026 bertempat di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta. Sejumlah 6 kelompok teater sekolah hasil kejuaraan pada Festival Teater Pelajar di Solo, Kudus, Batang, Jepara, dan Semarang. Apa hal yang kemudian menjadi daya tariknya?

Tentu saja menarik untuk didatangi, karena kapan lagi pelaku teater di Jawa Tengah kumpul dalam satu momen, baik yang berstatus pelajar, mahasiswa, teaterawan baik dari kalangan akademisi ataupun praktisi tumplek blek. Tujuannya sama yakni mengorek per-teater-an di Jawa Tengah. Saya yang menetapkan hadir langsung di tengah “Pertunjukan dan Perjumpaan” -tajuk kala itu, merasakan getaran yang tidak biasa dalam setiap perjumpaan dengan para pelaku teater yang sudah mengenyam pahit manisnya dunia panggung teater. Ada hal-hal yang tidak bisa terkatakan dengan baik, canggung, grogi, bahkan gagap saat mau mengawali percakapan. Waktu yang sempit, dan jadwal acara yang padat.

Ya, karena ada tanggungjawab yang tidak bisa ditinggalkan. Saya berangkat dari Jepara menuju lokasi perjumpaan di Teater Arena TBJT Surakarta dengan hati was-was, ‘keduman sarasehane ndak yah?’. Jarak dan waktunya mepet. Selama perjalanan, saya, Raisul Kedun dan Sugiarto mencari jalur yang cepat dan lancar. Pasalnya, area lalu lintas Sayung-Demak dan Kaligawe-Semarang terjadi luapan air rob, kemacetan sulit diurai. Dalam pantauan jalur di google map berwarna merah.

Jalur alternatif ialah belok kiri, lewat Mranggen untuk menghindari kemacetan yang mandeg itu. Sekalipun di Karangtengah, arus lalu lintas sore hari selalu padat merayap. Cuaca mendung, gerimis tipis-tipis. Saya dan Raisul bergantian pegang kemudi, sementara Sugiarto membawa bekal cemilan, dan air berperisa Jeruk untuk melepas haus hindari dehidrasi. Ia pikir, untuk mengejar waktu untuk sampai pada sesi malam sarasehan, kami tidak mungkin jalan santai ataupun berhenti di warung untuk sekedar mengganjal perut. Sekalipun kami semua belum sempat sarapan ataupun makan siang di tempat kerja. Tapi, niatan kami yang penting sampai di lokasi, berbaur dan ‘netepi laku’ berjumpa dengan kawan-kawan teater se-Jawa Tengah.

Kata itulah yang kemudian untuk menenangkan saya dalam setiap jengkal perjalanan menuju Solo. “Netepi laku” untuk datang, sebab kita sudah berjanji pada kawan-kawan di Parade Teater Terbaik Teater Jawa Tengah (PTTJT). Dalam benak, adalah saya perlu menggenapi laku dan berjumpa dengan pelaku teater di Jawa Tengah. Saya merasa pertemuan itu memiliki arti besar bagi diri saya. Sebab per-teater-an di Jepara sedang lesu dan butuh semacam injeksi, suntikan motivasi, kata-kata pedas untuk jadi bara dalam berkreasi. Cambuk untuk menyalakan ruang-ruang teater di daerah kami yang terasa redup dan kurang gairah. Netepi laku, mlaku-mlaku dan sinau yang kemudian saya artikan sebagai komitmen pada apa yang menjadi dan sudah dikerjakan dengan tekun selama ini, namun tetap selalu belajar untuk mengembangkan diri. Melalui PTTJT hal itu memungkinkan terjadi, tentunya dengan segenap kesadaran dan konsekuensi. Ranah tersebut menjadi podium bagi semua pelaku teater di Jawa Tengah, khususnya.

Parade Teater Terbaik Jawa Tengah atau PTTJT bertajuk “Pertunjukan dan Perjumpaan” kali ini menampilkan Teater Kelana-SMK N 3 Surakarta (Festival Drama Realis Remaja-Surakarta) lakon “Menanti Senja” adaptasi dari naskah “Janji Senja” karya Taofan Nalisaputra, Teater BOSAS –SMK N 3 Jepara (Festival Teater Jepara) lakon “Warisan Bapak” karya Reza Agnes Sindy Lorenza, Teater Emas – MAN 1 Tegal (Festival Teater GEMA Semarang) lakon “Kamit” karya Gusmel Riyadh, Teater Zigot – SMA N 1 Batang (Festival Drama Pelajar-Batang) lakon “Daster Bolong Mamak” karya Moh Henri Prasetiyo, Teater Prada – SMA Batik 1 Surakarta (Festival Teater Musikal Pelajar Diorama 2) lakon “Sebentang Cengkar Untuk Diorama” karya Idham Ardi Nurcahyo, Teater Patas – SMA N 1 Bae Kudus (Festival Teater Pelajar XV Teater Djarum Kudus) lakon “Argumentasi Sisi” karya Ego Heriyanto.

Setiap penampil merupakan juara dari festival teater yang diadakan di daerah masing-masing. Menurut Widyo Babahe Leksono, bahwa dari setiap daerah yang mengadakan festival teater akan mampu suplemen dalam perjalanan dan perkembangan teater di daerah masing-masing, “Puluhan kelompok teater pelajar, bahkan ratusan dalam setiap ajang festival nantinya akan menjadi tonggak penting bagi keberlangsungan perkembangan teater di Jawa tengah dan Indonesia. Sekalipun yang tampil dalam parade ini baru 6 kelompok, tetapi jika dihitung sebelumnya peserta yang mengikuti seleksi di daerah masing-masing berjumlah puluhan. Kalau di total ada mungkin seratusan lebih kelompok teater pelajar yang mengikuti seleksi festival teater pelajar se-Jawa Tengah,” ungkapnya.

Di penghujung kegiatan diadakan sarasehan dengan pemantik Widyo Babahe Laksono, Yogi Swara Manitis Aji, Metron Masdison, dan moderator Luna Kharisma. Membahas tentang peranan festival teater pelajar pada umumnya. Penting tidak penting, kehadiran festival teater pelajar sangatlah penting. Hal demikian diungkapkan oleh Masdison, “Jika muncul pertanyaan ‘pentingkah festival teater pelajar diadakan?’ tentu saja ‘sangat penting’. Diakui atau tidak diakui -festival pelajar–keberlangsungnya mendorong tumbuh-kembangnya teater di Indonesia.”

Sekalipun di Indonesia memiliki corak dan ragam yang berbeda sesuai basic teritorial yang mempengaruhi budaya dan adat masing-masing. Hal itu tentu merupakan kekayaan ragam tersendiri akan bentuk teater Indonesia. Yogi Swara juga menegaskan,”Pentingnya menyadari, juga memahami dalam setiap proses kreatif, memunculkan berbagai wacana, ide gagasan, dan juga hambatan yang tentunya perlu di carikan solusinya bersama-sama.”

Dalam waktu serba dan mendesak, jadwal kegiatan yang padat, banyak hal yang ingin di ungkap dan bahas bersama. Tentang ide gagasan, apresiasi karya, juga mekanisme administrasi internal sekolah, instansi, pemangku kebijakan, perjalanan proses kreatif, dan segala hal yang tidak terduga dalam setiap mempersiapkan garapan pementasan. Malam sarasehan itu juga menjadi ruang perjumpaan pelaku teater dari berbagai kota menjadi warna tersendiri. Bahkan kehadiran seperti Mbah Tohir, Hanindawan, Gigok Anuraga, Whani Dharmawan, Asa Jatmiko, M Nur Cholis, Alfianto, Turah Hananto, Yustinus Popo, Khotibul Umam, Retno Sayekti Lawu, Nur Ayak Rozaq, Rhobi Sani, nDaru Murdopo, Muluq Kelik, Paijan Zakky, Nurhadi Cipo, dan para teaterawati juga teaterawan muda lainnya dari pelosok penjuru Jawa Tengah melebur dalam kebisingan dialektika proses kreatif.

Rhobi Sani mengungkap bahwa sekalipun ini parade harapannya tentunya para penampil tetap menjaga instensitas performanya, “Dalam Parade yang diikuti dari sejumlah pemenang festival di setiap Kabupaten/Kota itu, sepertinya dari segi performa atau penampilan mengalami penurunan–dalam tanda kutip--. Artinya apakah karena hal itu dipengaruhi akan maindset, bahwa saat di festival penampilan mereka dilombakan sehingga ada motivasi untuk tampil maksimal untuk menjadi yang terbaik, sementara itu di parade –yang- tidak dilombakan jadinya sebatas gelar karya, sehingga terasa –peserta hanya sekedar pentas-- tidak tampil optimal,” ungkapnya.

Apakah saya menangkapnya sebagai garapan yang penting dipentaskan dan dengan segala hal yang perlu ngothak-atik gathuk, dari segi konsep garapan, sejalan kekuatan finansial produksinya, juga pada gelaran eventnya. Bukankah, PTTJT hadir menjadi ruang untuk semua yang ingin ngangsu kawruh bab teateran, atau istilahnya gethuk tular saling bertukar pengalaman, wawasan, dan pengetahuan baik yang berlatar akademik maupun praktisi. Lalu siapa yang diuntungkan dalam perhelatan PTTJT, tentu saja kita semua yang berkecimpung dalam dunia teater. Siapa lagi yang mau menjaga dan mengembangkan jika tidak kita sendiri para pelaku seni teater di Jawa Tengah, juga untuk Indonesia nantinya.

Tentunya, saya yang bagian kecil dari sejumlah peserta dari daerah merasakan nuansa yang berbeda, sekalipun memang waktu yang terbatas. PTTJ yang diadakan Iniibubudi dengan didukung sepenuhnya oleh Indonesia Kaya, Gst Production, Omah Kreatif Arturah, Pojok Seni, Asa Arts Academy, dan Taman Budaya Jawa Tengah merupakan ikhtiar pelaku teater yang keberadaannya perlu di catat dan digaungkan ke setiap penjuru Indonesia.

Perjumpaan sesaat demikian memberi dampak hingga kini terasa membara dalam setiap ruang-ruang ngopi dalam gunjingan teateran di Jepara. Ada bahasan soal ‘teater’ yang diperbincangkan, ada proses kreatif yang digunjingkan. Baik sebagai bahan refleksi, referensi, maupun instropeksi. “Kita orang teater perlu banyak-banyak ngopi bareng –sambil ngobrolin teater---, tentunya,” ujar Masdison.(*)

--------------------------
MASEKO BS

Sutradara dan penulis naskah, teaterawan Jepara.