
Mudik Karim
CERPEN
Karya: Imam Khanafi
4/1/2026


“AYAH benar-benar sudah dimakamkan?”
Karim membaca ulang pesan itu di layar ponselnya. Tiga kalimat pendek dari ibunya. Tanpa emotikon, tanpa penjelasan.
Ayah sudah dimakamkan sore tadi.Kamu tidak usah pulang kalau pekerjaanmu sibuk. Doakan saja dari sana.
Karim menatap lama tiga kalimat itu. Lalu tertawa kecil.
“Tidak usah pulang?”
Ia mengulang kalimat itu pelan, seolah sedang menguji bunyinya. Di luar jendela kantor, Jakarta tetap bergerak seperti biasa. Motor berderet, lampu merah berubah hijau, orang-orang berjalan cepat seperti sedang dikejar sesuatu yang tak terlihat. Karim menutup laptop.
“Aku pulang,” katanya pada dirinya sendiri.
***
Terminal sudah penuh bahkan sebelum matahari benar-benar tenggelam. Orang-orang membawa kardus, tas ransel, kantong plastik berisi oleh-oleh. Ada yang tertawa, ada yang mengeluh.
“Macetnya parah tahun ini.”
“Ya namanya mudik.”
“Yang penting sampai rumah.”
Karim berdiri di antara keramaian itu dengan satu tas kecil. Ia merasa aneh. Semua orang tampak gembira karena akan pulang. Ia pulang justru karena seseorang sudah tidak ada. Seorang lelaki tua duduk di kursi sebelahnya di dalam bus.
“Mudik juga, Mas?” tanyanya.
“Iya.”
“Ke mana?”
“Kudus.”
“Wah, sama.”
Bus mulai bergerak meninggalkan terminal. Lampu kota berderet seperti bintang yang jatuh ke tanah. Beberapa menit mereka diam. Lalu lelaki tua itu bertanya lagi, “Orang tua masih lengkap?”
Karim menatap keluar jendela.
“Tidak lagi.”
“Oh.”
“Baru meninggal tiga hari lalu.”
Lelaki tua itu mengangguk pelan. Tidak mengucapkan kata-kata penghiburan. Ia hanya menepuk bahu Karim sekali. Kadang manusia tidak membutuhkan kalimat. Cukup seseorang yang mengerti bahwa dunia tiba-tiba terasa lebih sepi.
***
Bus berhenti di rest area tengah malam. Karim membeli kopi sachet. Duduk di kursi plastik yang dingin. Seorang anak kecil berlari di depan warung. “Rafi! Jangan jauh-jauh!” teriak ibunya.
Anak itu tertawa dan kembali. Karim menatap pemandangan itu lama. “Ayah dulu juga begitu,” katanya tiba-tiba.
Lelaki tua di sebelahnya menoleh. “Begitu bagaimana?”
“Memanggilku keras kalau aku terlalu jauh.”
“Lalu?”
“Dulu aku kesal.”
Karim mengaduk kopinya pelan. “Sekarang aku ingin sekali dipanggil lagi.”
Hujan turun tipis di luar. Karim tiba-tiba ingat kalimat ayahnya suatu hari dulu.
"Kalau hujan turun saat perjalanan pulang, itu tanda alam sedang membersihkan sesuatu."
Waktu itu Karim tertawa. Sekarang ia tidak bisa tertawa.
***
Subuh ketika bus memasuki kota kecilnya. Udara terasa lebih lembut dibanding Jakarta. Karim turun di terminal. Seorang tukang ojek bertanya, “Ke mana, Mas?”
“Karangrowo.”
Motor melaju melewati jalan yang Karim kenal sejak kecil. Warung soto di tikungan. Lapangan sepak bola yang selalu tergenang saat hujan. Masjid tua dengan menara pendek. Segalanya sama. Tapi Karim merasa semuanya berubah. Mungkin bukan dunia yang berubah. Mungkin dirinya.
***
Rumahnya terlihat dari kejauhan. Pintu terbuka. Lampu ruang tamu menyala. Karim berdiri di depan gerbang beberapa detik. Ia menatap rumah itu seperti seseorang yang sedang menatap masa lalu. Ibunya muncul di pintu.
“Karim?”
Karim tersenyum. “Ibu.”
Ibunya memeluknya lama sekali. “Kamu pulang.”
“Tentu.”
Ibunya menepuk bahunya pelan. “Maaf ayah dimakamkan duluan.”
Karim menggeleng. “Tidak ada yang salah.”
Ia masuk ke ruang tamu. Foto ayahnya sudah diberi pita hitam kecil. Karim duduk di depannya. “Ayah,” katanya pelan.
Sunyi. “Aku datang.”
***
Hari-hari menjelang Lebaran berjalan lambat. Tetangga datang silih berganti.
“Ayahmu orang baik.”
“Dia sering membantu warga.”
“Kami kehilangan.”
Karim hanya mengangguk. Suatu sore ia berkata kepada ibunya di teras.
“Ibu.”
“Ya?”
“Sepertinya aku tidak pernah benar-benar mengenal ayah.”
Ibunya tersenyum tipis.
“Tidak ada anak yang benar-benar mengenal ayahnya.”
“Kenapa?”
Ibunya menatap pohon mangga di halaman.
“Karena orang tua selalu menyimpan sebagian hidupnya di tempat yang tidak terlihat.”
Karim mengerutkan kening.
“Lalu bagaimana kita mengenalnya?”
Ibunya menjawab pelan, “Dengan melihat siapa saja yang datang mengenangnya.”
***
Malam takbiran tiba. Bedug dan takbir menggema dari masjid.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Karim berdiri di halaman. Langit terasa luas. “Ayah suka malam takbiran,” katanya.
Ibunya mengangguk.
“Karena baginya takbir bukan hanya kemenangan.”
“Lalu apa?”
“Pengakuan bahwa manusia kecil.”
Karim tertawa pelan.
“Filsafat ayah lagi.”
Ibunya ikut tertawa.
“Ayahmu memang suka berpikir begitu.”
Karim menatap langit.
“Ibu.”
“Ya?”
“Apakah manusia benar-benar pulang setelah mati?”
Ibunya lama tidak menjawab.
Lalu berkata pelan.
“Mungkin.”
“Mungkin?”
“Yang pasti kenangan membuat orang tidak pernah benar-benar pergi.”
***
Pagi Lebaran datang dengan cahaya yang lembut. Karim memakai baju putih ayahnya. Sedikit kebesaran.
Ibunya berkata, “Ayahmu juga selalu begitu.”
Setelah salat Id, orang-orang menyalami Karim.
“Ayahmu orang baik.”
“Kami rindu dia.”
Karim merasa aneh.
Seolah ayahnya tersebar di banyak hati. Siang hari rumah mulai sepi. Karim membantu ibunya menata kue. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
Tok. Tok. Tok. “Karim, buka pintunya,” kata ibunya.
Karim membuka pintu. Seorang lelaki tua berdiri di sana dengan tas kecil.
“Maaf,” katanya pelan, “apakah ini rumah Pak Rahmat?”
“Iya.”
“Saya datang terlambat.”
“Bapak siapa?”
Lelaki itu menunduk sebentar.
“Sahabat lama ayahmu.”
***
Mereka duduk di ruang tamu. “Nama saya Hasan,” kata lelaki itu.
Ibunya tiba-tiba berdiri.
“Hasan?”
Lelaki itu tersenyum.
“Sudah lama sekali.”
Ibunya hampir menangis.
“Lebih dari tiga puluh tahun.”
Karim bingung.
“Apa yang terjadi?”
Hasan menatap foto ayah.
“Ayahmu pernah menyelamatkan hidup saya.”
Karim terkejut.
“Bagaimana?”
Hasan menarik napas.
“Dulu kami bekerja bersama di Kalimantan. Suatu malam terjadi kecelakaan di hutan.”
“Lalu?”
“Saya terjebak di sungai yang deras.”
Karim menunggu.
“Ayahmu melompat tanpa berpikir.”
Karim menatap foto itu lama.
“Kenapa ayah tidak pernah cerita?”
Hasan tersenyum.
“Karena orang baik tidak suka menjadikan kebaikan sebagai cerita.”
***
Mereka makan bersama di meja Lebaran. Suasana yang tadi sunyi perlahan hangat.
Hasan berkata, “Ayahmu pernah berkata sesuatu yang tidak pernah saya lupa.”
Karim menoleh.
“Apa?”
Hasan berkata pelan, “Rumah bukan tempat kita tinggal.”
“Lalu?”
“Rumah adalah tempat orang lain diterima.”
Karim menatap ibunya. Ibunya mengangguk. Seolah kalimat itu sudah ia dengar berkali-kali.
***
Sore hari Hasan bersiap pergi. “Saya harus melanjutkan perjalanan,” katanya.
Karim berkata, “Bapak boleh menginap.”
Hasan tersenyum.
“Terima kasih. Tapi perjalanan orang tua seperti saya tidak pernah benar-benar berhenti.”
Sebelum pergi, Hasan berkata pada Karim.
“Ayahmu bangga padamu.”
Karim terdiam.
“Ayah bilang begitu?”
Hasan mengangguk.
“Waktu terakhir kami bertemu.”
Karim bertanya, “Kenapa ayah tidak pernah bilang langsung?”
Hasan tertawa kecil.
“Karena orang tua sering takut pujian membuat anak berhenti berjalan.”
***
Malam Lebaran datang lagi. Karim duduk di kursi ayah di teras.
“Ibu.”
“Apa?”
“Selama ini aku merasa pulang karena ayah sudah tidak ada.”
Ibunya menatapnya.
“Lalu sekarang?”
Karim tersenyum pelan.
“Sekarang aku merasa pulang karena ayah masih ada.”
“Di mana?”
Karim menepuk dadanya.
“Di sini.”
Angin malam bergerak pelan.
Karim menatap halaman.
“Ayah.”
Ia berkata pelan, hampir seperti berbisik kepada langit.
“Aku akhirnya mengerti.”
Ia tersenyum.
“Mudik bukan hanya perjalanan tubuh.”
Lampu rumah tetap menyala.
Pintu tetap terbuka.
Dan Karim tahu sesuatu yang baru:
Kadang tamu tak terduga adalah cara kehidupan mengingatkan bahwa cinta tidak pernah benar-benar pergi. Karena pada akhirnya, setiap manusia sedang berjalan pulang.(*)
--------------------------
IMAM KHANAFI
Penulis tinggal di Kudus, selain menulis esai juga menulis puisi, cerita anak dan pengarsip.
Ilustrasi:
"Portal Muria", karya: Putut Pasopati dengan sedikit edit oelh Asa Jatmiko.



