
Kodok Digital
PUISI
Karya: Fathurrozi Nuril Furqon
4/1/2026


Perahu Layar
Pagi betul perahu layar terkembang. Ia meluncur melewati cuat sepasang
tanganmu yang karang disepuh doa. Angin bersiul-siul, menari dari pangkal
lidahmu; mantra perjalanan apa yang diam-diam kau rapal?
Beribu pengharapan: lima piring sesaji, semangkuk bebunga melati, sepasang
dupa mengepul, serta satu ayam cemani hitam. Semua berlayar menempuhi jarak
beribu cahaya.
Sepanjang jalan, ombak menganga. Runcing taring berdenting; gilas geraham
bergetar awas. O, di hadapanmu sajadah kumal perlahan gering. Ia bergetar-getar
menyongsong doa agar tak repih diamuk tumpas.
Sumenep, 2026
Selepas Hujan
Ketika langit membelah garba rahimnya, dan hujan cahaya menyentuhi bumi yang
berselaput cair tinta, kunang-kunang dan kuntum mawar pun lahir-bermekaran.
Bumi perlahan menyingkap tampangnya yang rupawan, dan perlahan ia menjadi
rumah bagi seribu perihal keindahan. Kupu-kupu dari nun bermigrasi menujunya,
mereka beterbangan dan memberkatinya dengan berlembar kisah romansa.
Dari sela batu, dari sela sendi, dari sela puting di dadanya, mengucur sungai
madu. Ia pun menjadi manis. Teramat manis, hingga menenggelamkan segala pahit.
Sumenep, 2026
Di Sebuah Stasiun
Titik hujan jatuh ke mata seorang gadis
Ia menari-nari di lanskap birunya,
dan bernyanyi
Keduanya menari dan bernyanyi,
Perlahan mereka pergi
Meninggalkan dunia penuh denting notifikasi
Sumenep, 2026
Di Antara Malaikat dan Debumu
Tersebab ada yang memilih turun dari singgasana fajar, maka sayap pun belajar
melipat diri.
Tubuh cahaya itu mulai merindukan patah tulang, sendu membengkak, luka
menganga. Ia bosan menyanyikan kidung abadi di ruang tanpa peluh dan siang
tanpa maghrib.
Ia tak hendak mengingkari atau pun menjadi ceruk bagi cair hasrat yang tak lagi
didih. Tubuh cahaya itu, berikut sepasang sayap yang kini terlipat, hanya ingin
sekilas menjejak, merasakan bagaimana bumi mengunyah terang dan meludahkan
debu. Ia ingin menyentuh nadi berdetak antara desau cemara, lalu berhenti,
seolah-olah waktu yang rontok di tubuhnya, kembali memasang satu-satu angka
berikut jarumnya.
Menginjak bumi, ia menyelami beribu bahasa fana yang tak ia kenali. Dari bahasa
itu ia memahami kala lumpur bercerita lewat retak, angin berbisik lewat rapuh
tulang rusuk. Ia pun mulai mencatat segala di kulitnya yang kini bisa mengering,
juga di napasnya yang kini bisa sesak.
Dan ketika hari yang dinubuatkan tiba, ketika ia terbaring di antara akar dan
cacing, barulah ia pahami—sayap di pundaknya yang kini keriput dan serapuh
papirus, hanyalah terbang meninggalkan baka berikut surga yang (fana).
Di sini, di pangkuan bumi yang pendek ini, setiap kematian tak ubah larik-larik
sajak yang ditulis bumi untuk dirinya sendiri; sebuah kidung pendek yang tak
perlu malaikat untuk sekadar menyempurnakan.
Indramayu, 2026
Kodok Digital
Aku lahir antara denting notifikasi bersahutan yang kerap diabaikan,
Sejak mula, lidahku dikutuk lebih karib dengan algoritma tinimbang doa,
Dan otakku menjadi trash bin berisi cache mimpi kadaluarsa.
Jika kau hendak menyapa, janganlah lewat stiker hallo,
Sebab kutahu mulutmu adalah kumpulan hashtag yang melumut bagai alga
Dan kerongkonganmu serak tersumbat sinyal 5G
Yang luber seperti ingus kala pilek tiba.
Aku percaya bau mulutmu akan lebih jigong dari rentetan spam subuh hari.
Baiknya di layar saja kita bersua, saat kita sama-sama bermetamorfosa jadi dewa
Yang sanggup menghapus bumi berikut rangkaian Bima Sakti dengan swipe,
Tapi tak sanggup menghapus tagihan akhir bulan,
Juga sakit kepala akibat like yang tak kunjung menyentuh angka ribuan.
Biarlah langit menjadi panel streaming,
Awan-awan mengembang bagai spons
Menghimpun data korban trending topic.
Dan apabila hujan turun, kita tak lain derai-derai emoji
Yang ditemplate selalu tersenyum.
Di sini, wallpaper default menjadi pintu menuju wahana segala kekacauan,
Filter terbaru malih rupa roller coaster yang membawa
Mengunjungi kegilaan demi kegilaan
Hingga ketenangan tak lain mitos offline
Yang terkubur di bawah tumpukan password terlupakan;
Kita pun jadi paham frustasi seorang Adam
Pada surga yang mendelete databasenya.
Tapi sungguh kawan, diri ini ingin menangis,
Hanya saja air mataku telah dikonversi jadi bitrate,
Mengalir deras di kolam komentar bagai rumah jagal,
Yang menawarkan beragam fitur premium menjadi afk budiman.
Kita semua tak ubahnya kodok digital.
Hidup adalah survive dengan melompat
Dari satu aplikasi ke aplikasi lain,
Sementara jauh di ceruk dada, ada
Rindu pada kolam yang sebenarnya.
Tapi sayang, ingatan kita terhapus
Dan tak mampu di-undo.
Ingatan itu ialah zip tentang denah dan jalan
Yang mesti ditempuh untuk menuju pulang.
Subang, 2026
Dewa, Iman, Internetan
1. Liturgi bagi Iman Palsu
Aku bukan hidangan kambing guling dan sepiala vodka di mezbah sebuah layar,
sebab aku telah dianugerahi berkat seorang dewa di simulasi dunia penuh celaka.
Mataku berkilat awas menjaring beribu gelombang signal, dan perlahan aku
merasa semakin tinggi, dilambungkan konten-konten fyp, tanpa tahu bahwa kaki-
kakiku berkali-kali terpelanting di tangga eskalator yang khidmat bergerak ke
bawah.
Hari-hari dipenuhi cetak biru rencana yang ngambang serupa hologram,
menyusun strategi dari potongan GIF dan cuplikan story, sambil lalu asyik
melihat orang-orang terjerumus ke spiral scroll tanpa ujung. Lalu aku akan
berseru: “Lihat! Bagi kalian, telah kurancang kiamat paling fotogenik!
Bersabarlah sekejap, ini akan jadi cara melepas nyawa paling absolut cinema.”
2. Langkah-Langkah Dewa Pemula
Sebuah ponsel berdering dalam kubangan fermentasi cairan kepala, dengan suara
bagai dentang jam weker dari neraka versi digital. Kusambut itu dengan tarian
tanpa busana, dengan filter wajah yang menarik-narik bibir agar tersenyum meski
dalam frame ada jerit terperangkap ilusi kamera. Aku pun belajar bahwa menipu
dunia akan diganjar ribuan gift dan banjir like.
Namun dunia terus merias diri, maka demi statistik follower terus naik, kuajari
burung-burung berkicau dalam format MP3, kuajari pohon-pohon berpose agar
terlihat lebih hijau. Kulakukan semua sulap yang kubisa. Simsalabim, huus, j
adilah followerku bertambah sejuta. Aamiin.
3. Dewa dalam Mode Siap Sedia
Kudirikan sebuah mezbah agar orang-orang bisa kapan saja berziarah dan
menghaturkan sembah. Tidakkah layak diri ini memberi berkat, sebab sudah
banyak mawar kusemai pada wajah-wajah hitam yang menanggung beban seberat
ekspektasi para tetangga. Tidakkah bisa kalian lihat doa-doa menjelma origami
burung di kolom komentar, beterbangan mengirimkan puja, walau dilantunkan
dengan text-to-speech yang hambar.
Itulah kuasa seorang dewa, saat orang-orang lebih mempercayai navigator jamet
yang asyik mengarahkan semua ke tebing tren terkini daripada alkitab dan
sebangsanya. Itulah kuasa seorang dewa, saat orang-orang melamurkan mata demi
mengikuti fomo yang absurd dan menanggalkan batas-batas manusia dengan kera,
padahal itu tercela.
“Tuhan kami adalah algoritma,” bisik mereka, sambil menekan tombol ‘refresh’
seperti ritme jantung ketakutan. Dan kuterima itu sebagai pengakuan iman, sebab
di tangan konten-kontenku mereka tak lain hanyalah hamba yang sungguh
kasihan.
4. Kalam Dewa yang Mandul
Di atas layar yang bagai meja makan, beribu tangan mengunyah feed dan reels
tanpa pernah merasa kenyang. Mereka menulis puisi dengan emoji, dan
menuliskan kitab suci dari podcast dan wawancara yang dipelintir sesuka hati.
Firman-firman tua dan semua yang pernah dititahkan akhirnya menguap sebagai
uap panas dari prosesor tanpa pendingin, lalu menjadi debu yang mengendap
antara sela tombol keyboard.
Maka, sepi adalah takdir yang dinubuatkan untuk kuil dewa jadi-jadian ini. Dan
semua kuasa, juga berkat, perlahan kehilangan kerlip, serupa pepohonan yang
layu didera paceklik.
5. Mengistirahatkan Kepala Sambil Coba Mengintip Masa Depan
Ketika kuota habis dan WiFi mati, barulah diri ini mengingat bayangan sendiri.
Bayangan itu merangkak keluar dari stop kontak, membentuk sosok yang hampir
manusia. Dia muntahkan beragam kalimat urung terkirim, sebab tubuh mereka
bukan server memori atau pun almari. Dia muntahkan tautan yang mengarah ke
halaman berisi t-rex yang rajin treadmill, juga kenangan yang tersimpan di cloud
dan terlupakan kata sandinya. Lalu bersama, kami menunggu sampai baterai
terisi, dan kembali ke layar lcd untuk melihat apakah kiamat telah usai.
Subang, 2026
Pinjol
1. Doa di Kolam Kaca Retak
Malaikat berwajah hijau uang beterbangan seperti desau terbawa angin yang
menyelip lincah antara iklan dan tanggal tua. Kau mengira mereka bintang jatuh,
semacam dana kaget datang menimpuk hari sial yang betah rebahan di kantung
mata.
Ketika doa-doa kemudian dipanjatkan, dan sebuah suara menjawab nun entah di
mana, hujan angka datang dan tiba di hadapanmu sepeti harta karun.
Tapi tak lama bulan tidak lagi membawa gugus rasi bintang. Dia membawa
notifikasi tanggal jatuh tempo yang terus membesar.
2. Taman yang Tumbuh di Bawah Kulit
Bebunga bersemai mencipta taman penuh duri dan alga, sebab dipupuk oleh
hutang yang kian busuk. Kicau burung dan desing lebah madu berganti dering
panggilan dari nomor-nomor tak dikenal.
Di pintu taman sebuah pemberitahuan berbunyi: "Jika kau petik setangkai, maka
mekarlah seratus di tempat gelap, dalam saku kosong, dan bawah bantal
berdebu."
3. Sungai Logam Cair
Mengalir, mengalirlah kecubung dalam gelombang pemancar. Mengalirlah ia
melintasi kamarmu pengap, menuju lubang-lubang speaker murah yang
mendendangkan lagu pengantar panik.
Sebuah dahaga yang amat, lahir di ruas tenggorokan, dan kau meminumnya
hingga mulut berbusa. Kau tak sadar telah menelan kepingan cermin, cermin yang
memantulkan wajahmu menjadi seribu wajah lain, dan memantulkannya ke hutan
penuh data yang jadi sarang serigala.
4. Menara Hologram
Sebuah tower of god tiba-tiba terbangun dari rentetan tagihan yang meminta
dilunasi. Kau terjebak di lantai paling atas sambil memohon pintu dibuka,
sementara kau pikun dan telah melupakan kata sandinya, sebab dikutuk denda
yang selalu terkembang, lebih lebar dan lebih baka, serupa senggama.
Dan tuhan hanya menitipkan satu firman yang terus berulang penuh koma; "Telah
kupahami bahasa di tubuhmu," sambil mengirimkan tautan ganti pin.
5. Metafora untuk Pencari Hutang
Takdir itu mengikatmu dalam baris-baris kontrak tak bertepi, yang menjeratmu
dalam deret transaksi gagal, percakapan membeku, dan kuburan-kuburan dingin
bernisan hutang.
Namun di balik angka yang teriakannya itu melengking menggigiti kuping,
kudapat sebuah metafora: manusia diubah menjadi saldo, saldo bersembunyi jadi
manusia.
Subang, 2026
Dalam Getir
Avatar kita bersemi dari keluasan lanskap data, melepaskan kulit profil lama
yang usang dan menghitam seperti siluet gerhana kantung mata. Dunia berputar 180
derajat di atas timeline, dan sebuah kincir transparan, menggilas sisa cerita yang
belum selesai diunggah.
Di balik filter Valencia dan Clarendon, keberadaanku menjadi semi-bening, yang
berziarah ke sebuah gereja tua untuk meminta berkat dari dewa kiwari bernama
algoritma. Seorang pendeta anonym berkhotbah diiringi requiem suara mesin.
"Biarkan duka terfermentasi dalam cloud storage. Biarkan ia basi, lalu jual
sebagai limited edition anxiety."
Keluar, reels menari-nari bagai ballerina di atas sisa reruntuhan berita kemarin.
Dan sekilas kudengar tawa mereka bagai belati, seperti mencabik bahasa yang
tersesat di rimba digital yang lebih ngeri dari arena kaum sparta.
Menjauh, kudapati bayanganku pecah dalam belasan kotak grid. Ada yang
tersangkut menontoni iklan berseliweran, menyelami jengkal kabel fiber optik,
dan memilih tersimpan rapi di hening galeri. Sepertinya aku telah dikutuk jatuh
cinta dengan segala hal kurang bermakna.
Maka kukumandangkan mantra tagar—bukan dupa—di setiap senja virtual.
Kusihir data jadi kuda poni yang lari ke padang buffer, menginjaki rimbun akal
sehat yang layu sebelum mekar. Biarlah kepalaku berputar, membiasakan diri
dengan oleng yang semakin liar.
Dan apakah itu pertemuan? Adakah itu hanya error 404 estetik? Pertemuan tak
lain hening mendekam di balik bising notifikasi. Aku sendiri di sini, dalam jeda
paling sunyi, sebelum server reboot.
Barangkali di sembarang ruang tersembunyi antara ribuan kode, engkau, Sang
Wajah Asali, masih berputar-putar sendiri, menanti mantra yang bukan iklan,
bukan permintaan follow, tapi puisi yang berani lahir tanpa tagar, dan mati tanpa
archive.
Jika kau datang, jadilah kuda—bukan avatar. Kutunggu kau di padang mimpi
yang belum terjual ke iklan provider, dengan senyum dan doa yang kutitipkan
pada setiap orang asing yang tersesat di jalur sama, dan masih merindu sesuatu
yang nyaris tak bernama.
Subang, 2026
--------------------------
RFATHURROZI NURIL FURQON
Penulis asal Sumenep, kini berdomisili di Subang. Alumnus TMI Al-Amien Prenduan 2021, dan pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA). Bisa dihubungi lewat ig: @zeal0108.
Ilustrasi:
"Mangrove Terakhir", karya: Putut Pasopati



