Amsal Perempuan

PUISI

Oleh: Nimas Padmi

2/1/2026

AMSAL PEREMPUAN

1.

Akulah si jabang bayi, tumbuhan cinta yang terlukai
sejak bapak mengasah pedang sewarna perselingkuhan
sejak itu langkah ini paham
bahwa aku tak harus percaya dengan adam
bulan ke empat, doa ibu semburat

2.

Hari ke tujuh belas, malam begitu trengginas
gua garba membuka, bumi bersabda
; kun fayakun
maka apapun, adalah episode yang sudah diatur
usia tinggal mengayun
menghamba pilu juga berkah beruntun

3.

Tak ada pilihan, setelah hawa tergiur khuldi
takdir perempuan hanya makmum
harus taat pada kidung agung
sebagaimana quran merangkum
berkhusuq membawa tulang rusuk
entah dimiliki entah sendiri


Solo, 2025

STASIUN


Tak ada pelukan
Juga cium pipi
Tanda perpisahan

Hanya kepal tangan bersentuh
Dengan tatap mata lusuh

: hati-hati ya

Kalimatmu menimpali
Seiring lengking kereta meninggi
Langkah-langkah bergegas
Datang dan pergi
Menenteng cemas juga mimpi-mimpi

Solo, 2024

KATA HATI


Aku bukan aisyah yang punya nyali ke medan laga
Juga bukan Fatimah yang punya ketulusan sempurna
Bukan pula Bilqis yang punya kuasa
Tapi semenjak hawa makan khuldi, aku tahu aku tak bisa sendiri
Aku butuh teman kencan sekaligus imam saat dinihari

Solo, 2025

JEMBATAN CAMPUHAN

Sepanjang campuhan, aku menggauli kesepian. Tak ada lagi tempat untukku bersandar.
Semenjak matahari sungsang dan mengecupkan tanda silang. Pada dadaku yang sempal.

Kaki-kaki jenjang, sorot mata biru, silih ganti melewati. Tak ada kata. Seribu diksi
seolah sembunyi. Mirip bayang bapak ibu, menyapa kosong dalam sesaji. Terasa kering perjalanan.
Sebab tak ada lagi pelukan, ketika langkah kelelahan.

Maka pahami, bila sesekali kupilih jalan sendiri. Menikmati perih dari wangi kamboja,
dimana tiap detik tak henti mengulum doa.

Sepanjang campuhan, aku menjajakan garis tangan. Kepada angin, pura dan patung dewa.
Sembari melafal kekalahan, semoga kau tak mendengar. Betapa jantungku nanar menghadapi
menopause malam. Di jembatan ini, aku jatuh cinta berkalikali.

Ubud, 2025

--------------------------
NIMAS PADMI
Penikmat sastra asal Solo. Beberapa karyanya sempat dimuat sejumlah media. Buku tunggalnya Zikir Mawar, kumpulan haiku 2016; kumpulan geguritan Pojokan bibis wetan 2020.


Ilustrasi:
"Help", karya: Putut Pasopati